Dawet Ayu Banjarnegara di Ternate
Maret 22, 2008 oleh kalangkabut
Ndawet, Dari Ajibarang ke Ternate
Turiman, 35 tahun, mungkin tak akan menyangka jika kini mantep untuk hidup merantau di Ternate, jauh dari anak istrinya. Entah apa yang bergejolak di hatinya jika ingat kampung halamannya di Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah.
Pagi itu ia dengan mimik serius meracik barang dagangannya namun dalam porsi kecil. Mungkin hanya seperlima dari porsi normal yang biasa ia suguhkan untuk para langganannya. Saya kira ia hendak mencicipinya agar tahu apakah dagangannya itu siap edar atau masih harus ditambahi sesuatu agar cita rasanya terjaga. Ternyata saya keliru.
Setelah Mas Turiman selesai meracik minuman porsi kecil, ia menyiramkannya ke gerobaknya! Saya bingung. Dengan kecepatan yang sangat tinggi saya memtar otak menebak-nebak apa sih maksud tindakan Mas Turiman tadi.
APAKAH ITU RITUAL SEBELUM BERJUALAN?
Tebakan saya benar. Rupanya itu syarat atau ritual yang jelas diajarkan turun-menurun dari orang tuanya. Konon hal itu akan melindunginya dari musibah saat berjualan, mencegah agar dawetnya lekas basi, dan tentu saja dengan setangkup harapan agar dagangannya hari itu laris.
“NING YA SEBENERE YA MUNG KARENA WIS KEBIASAAN BAE, MASE…”
Ya, mungkin orang tuanya dulu mengajaknya jualan lalu Mas Turiman melihat orang tuanya melakukan hal tersebut tiap kali hendak berangkat jualan. Lalu akhirnya Mas Turiman mengikuti jejak orang tuanya.
Dan mungkin bukan hanya saya yang sudah menyaksikan ritual Mas Turiman itu, karena Mas Turiman sudah pernah jualan dawet di Kalimantan, juga Papua. Bahkan awal perkenalan saya dengan Mas Turiman (lewat dawetnya), dia bercerita bahwa dia berangkat dari Semarang menuju Ternate menggunakan Kapal Barang!!
Ya, namanya merantau, mencari sesuap nasi (dan segenggam berlian, kalo bisa!) penuh dengan suka duka. Dan saya, tentunya harus merasa bersyukur, meski sama-sama merantau, saya masih lebih enak dari segi fasilitas. Tapi soal penghasilan? Belum tentu saya menang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar